Rajutan Makna

Merajut Makna yang Terserak

Mush’ab bin Umair (bag 1)

Mush’ab bin Umair adalah seorang diantara para sahabat Nabi. Alangkah baiknya jika kita memulai kisah dengan pribadinya: Seorang remaja Quraisy terkemuka, seorang yang paling ganteng dan tampan, penuh dengan jiwa dan semangat kepemudaan.

Para muarrikh dan ahli riwayat melukiskan semangat kepemudaannya dengan kalimat: “seorang warga kota mekah yang mempunyai nama paling harum”.

Ia lahir dan dibesarkan dalam kesenangan, dan tumbuh dalam lingkungannya. Mungkin tak seorang pun di antara anak-anak muda Mekah yang beruntung dimanjakan oleh kedua orang tuanya sedemikian rupa sebagaimana yang dialami Mush’ab bin Umair.

Mungkinkah kiranya anak muda yang serba kecukupan, biasa hidup mewah dan manja, menjadi buah bibir gadis-gadis Mekah dan menjadi bintang di tempat-tempat pertemuan, akan meningkat sedemikan rupa hingga menjadi cerita tetang keimanan, menjadi tamsil dalam semangat kepahlawanan? Read more…

Me & My Wife

al

Berjuanglah

Berjuanglah

Tak semudah melafazkan nya

Ikhlas ternyata tak semudah mengucapkannya. Walau puluhan buku telah dibaca, namun tak ada jaminan ia kan hadir di dalam diri. Sebab mengetahui belum berarti mengamalkan dengan benar.

benar dan salah di mata intelektual

Seorang Intelektual sejati memiliki keyakinan yang kuat tentang sesuatu yang mereka anggap benar dan salah. Benar dan salah tidak hanya untuk di letakkan di dalam ruang kognisi mereka saja dengan menjadikan pengetahuan tentang benar dan salah sebagai status keilmuan belaka. Lebih daripada itu mereka memposisikan apa yang mereka ketahui sebagai arahan untuk bertindak, ibarat carian tembaga panas yang di tuangkan dalam sebuah cetakan pengetahuan, sehingga lahirlah manusia-manusia yang seolah-olah menjadi bayangan nyata dari pengetahuan yang mereka miliki.

Intelektual ?

Tak sepatutnya seorang intelektual berada di ujung menara gading sembari meninggalkan masyarakat yang dulu menjadi induknya. Sebaliknya ia adalah benteng pertahanan terhadap semua kezaliman yang dihadapi oleh masyarakat. Ia siap menggempur siapa saja yang mencoba mencokolkan kezaliman ditengah-tengah masyarakat.

Seorang intelektual sejati tak akan pernah terjebak dalam sangkar elitisme!!!

Post Navigation

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.